Chapter 1.
“Tok,tok,tok”
Suara ketukan pintu membuat gadis berambut sebahu itu terbangun dari
tidurnya.Dia membuka pintu dan melihat wanita tua yang agak gemuk didepannya.
“Maaf
non,ibu ingin non Fanya keruang keluarga.” Wanita tua itu,tidak lain adalah
slah satu pembantunya berbicara formal
pada gadis yang ada didepannya itu.Tetapi gadis itu hanya setengah mengangguk
lalu menutup pintu tanpa bicara apapun.
Tidak lama
kemudian,gadis yang bernama Fanya itu menuruni tangga dan disambut oleh banyak
orang lalu duduk menghadap wanita yang agak tua didepannya.Wanita tua itu
menghampiri Fanya dan mencium keningnya
“Selamat ulang tahun sayang,mama sayang
sama kamu.” Semua orang yang ada dirumah itu bertepuk tangan mendengar
majikannya mengucapkan ucapan ulang tahun pada nona mereka.Ada sekitar sembilan
orang dirumah yang besar itu.Tujuh dari mereka adalah pembantu rumah,dan dua
lainnya adalah Fanya dan mamanya.Setelah mengucapkan ucapan ulang tahun,merekapun
menyiapkan kue yang diatasnya terdapat
dua buah lilin angka 16.Semua orang tersenyum dan tertawa karena melihat Fanya
yang sangat jarang untuk keluar kamarnya,tetapi ekspresi Fanya selalu datar.
“Aku gak butuh semua ini!.”Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Fanya
sendiri yang mengheningkan suasana dan melenyapkan senyuman semua orang yang
ada disana. “Fanya,mama tau dihari ini kamu pasti ingin papa kamu hadir.Tapi
apa belum cukup,semua orang hadir disini buat menghibur kamu.Jadi jangan pernah
kamu bilang kalau kami semua gaak berguna dan kamu gak butuh kami.Kami juga
sayang sama kamu seperti papa kamu.”Mama Fanya mulai menitikkan air mata.Fanya
sangat menyesal karena telah membuat mamanya menangis,oleh karena itu dia
mencoba membuang muka agar tidak terlihat sedih.“Non,ini
dari kami semua.Maaf kalau isinya tidak bagus,karena ini juga tidak mahal.”
Salah satu pembantu laki-laki mengulurkan bingkisan yang membuat Fanya dan
mamanya terpaku oleh bingkisan itu.
“Kami semua ingin,non Fanya bisa ceria seperti
dulu lagi,bisa cerita-cerita kekita seperti dulu lagi.Pak mamang masih ingat
dulu seetiap pulang latihan basket,non Fanya selalu meminta pak mamang
mendengarkan cerita non.”Salah satu pembantu laki-laki yang merupakan tukang
kebunnya dengan sedih mengucapkan kata-kata yang nyaris membuat Fanya menangis.“Iya
non” Semuanya serempak mengucapkan kata itu.Kini Fanya benar-benar tidak bisa
menahan tangisnya,ia pun pergi begitu saja menuju kamarnya. “terimakasih,kalian
sudah peduli sama Fanya” Semua pembantu sangat sedih melihat mama Fanya yang
masih lemas. “ibuk tidak apa-apa?,kami semua juga sangat ingin non Fanya bisa
seperti dulu lagi”
==
Kegelapan pun
menelan cahaya.Kini hari sudah mulai malam,suasana dirumah Fanya benar-benar
sunyi seperti tidak ada penghuni disana. “Tok,tok,tok” lagi-lagi suara ketukan
pintu menyadarkan Fanya dari kesendiriannya. “Fanya,buka pintunya mama mau
bicara” Suara mama Fanya dari luar pintu,membuat Fanya ragu-ragu membukakan
pintu.Akan tetapi,Fanyal memilih
membukakan mamanya pintu dan memasuki kamarnya.Suasana kamar Fanya sangat hening
dan sunyi.Mamanya membawa tiga bingkisan
kekamar Fanya,lalu ia meletakkannya di meja belajar Fanya. “Kamu lihat tiga
bingkisan itu?.Yang warna biru dari semua pembantu dirumah ini,yang warna hijau
dari mama,dan yang warna merah muda itu dari papa kamu”. Mendengar kata
terakhir mamanya,Fanya menjadi terkejut dan mulai terpaku pada sebuah bingkisan
yang berwarna merah muda,tidak lain adalah bingkisan dari papanya.Tetapi,Fanya
hanya diam terpaku saja tanpa bicara. Fanya,mama sayang…banget sama kamu.Bukan
cuma papa aja,tapi semua orang dirumah ini
juga sayang sama kamu.Kita semua ingin kamu kembali Kediri kamu yang
dulu.”Mendengar ucapan mamanya,Fanya
memalingkan muka sambil menunduk. “Mama gak suka sikap kamu kayak
tadi.Mama gak mau cuma karena papa kamu,kamu jadi orang yang egois.Kalau kamu
kayak gini terus,lebih baik kita nyusul papa kamu ke paris.Mama udah gak kuat
lihat kamu kayak gini terus.” Lagi-lagi mama Fanya menangis.Fanya memang cewek
tomboy,akan tetapi dia juga bisa menangis jika melihat orang yang paling dia
sayangi menangis.
Suasana
dikamar Fanya saat itu menjadi agak ramai dengan suara isakan mama Fanya.”tok,tok,tok”
lagi-lagi suara ketukan pintu kamar Fanya terdengar. “Permisi non,ada telpon
dari bapak” Ternyata itu adalah salah
satu pembantu rumahnya. “S-sambungin aja” Suara Fanya terdengar kaku saat
mendengar ada telpon dari papanya.Setelah mendengar itu juga,mama Fanya pun
pergi meninggalkan Fanya bicara berdua dengan papanya lewat telepon.
(Pembicaraan
Fanya dengan papanya di telpon)
“Fanya..,udah
buka bingkisan dari papa?” “hiks,hiks” suara itu,terdengar dari mulut
Fanya,kini dia sudah tidak dapat menahan apa yang dia rasakan. “Fanya,kamu nangis?
Kamu kenapa sayang?”Kini suara papanya terdengar kahwatir.” “Ini semua
gara-gara papa.Fanya gak tau harus benci atau gak sama papa.Semuanya gara-gara
papa.Hiks,hiks” Kini Fanya meluapkan semua emosinya,apa yang dia pendam kini
semuanya telah ia ungkapkan pada papanya. “Fanya,papa minta maaf ya.Papa janji,
papa akan cepat pulang.Tapi Fanya juga harus janji sama papa,kalau Fanya harus
sekolah lagi.Papa gak mau Fanya jadi putri papa yang bodoh.”Kini papanya juga meluapkan
semua apa yang ingin dia katakan pada putrinya selama ini. “Fanya denger
papa ya,kalau Fanya mau papa cepat
pulang Fanya lihat bingkisan yang papa kasih dan Fanya harus menjaga itu sampai papa pulang dan gunakan itu untuk menemani hari Fanya .Dan
Fanya juga harus turutin semua kata-kata mama.Fanya bisa kan janji sama papa?”
Suara tangisan Fanya berhenti mendengar nasihat papanya. “Fanya janji pa,papa
juga harus bisa nepatin janji itu.” Suasana hati antara ayah dan anak ini pun
mulai tenang. “Yaudah,kamu harus cepat tidur,besok Fanya harus mulai sekolah.”
Percakapan antara anak dan ayah dari telepon itupun selesai.
Beberapa menit
kemudian,Fanya berniat membuka semua bingkisan itu.Dimulai dari bingkisan berwarna
biru yang isinya setelah dibuka adalah sebuah bola basket berwarna oranye dan
sepucuk surat.Fanya pun mulai membaca surat itu.
Kepada nona kita yang paling cantik dan ceria.
Non Fanya,kita semua mengucapkan selamat ulang
tahun.Semoga semua do’a-do’a non Fanya bisa dikabulkn dengan mudah.Mungkin
hadiahnya tidak bagus,karena itu juga tida k mahal.Kami ingat,dulu non Fanya
angat suka bermain basket,setelah puulang bermain basket,non Fanya selalu
bercerita kepada kami semua tentang kesenangan non.Tapi kami juga sedih,karena
semenjak tuan pergi,non selalu mengurung diri di kamar.Non Fanya jarang bicara
dan bahkan sangat tidak bersemangat seperti dulu.Kami ingin non Fanya seperti
dulu lagi,selalu ceria dan bersemangat.Kami akan selalu setia sama non
Fanya.Semoga sikap non bisa kembali lagi.Maaf kalau tulisan tangan pak parjo
jelek.
Dari kami semua.
Fanya sangat
tersentuh juga ingin tersenyum membaca surat dari pembantu-pembantunya itu.Selanjutnya,Fanya
mencoba membuka bingkisan yang berwarna hijau tidak lain adalah bingkisan dari
mamanya.Stelah membukanya,ternyata isinya adalah sebuah jam bangun kecil yang
gambarnya adalah foto keluarga Fanya.Ada dia,mamanya,papanya,dan seorang
laki-laki yang agak tua darinya.Setelah
melihatnya mata Fanya pun mulai berkaca-kaca dan dalam hatinya berkata “Apa
yang udah kamu lakuin Fanya.Kenapakamu jadi kacau kayak gini.Kenapa kamu jadi
orang yang egois Fanya.Egois,benar-benar egois”.Setelah itu Fanya pun membuka bingkisan dari papanya
itu,dan ernyata isinya adalah sebuah dairy merah muda yang manis dan
benar-benar indah.Tiba-tiba,ia teringat kata-kata papanya “Fanya harus menjaga
itu sampai papa pulang”.Tak tau apa yang dia pikirkan,setelah itupun Fanya
berlari keluar darikamarnya keruang makan keluarga yang disana mamanya sedang
makan malam ditemani empat pembantu rumahnya. “Fanya mau sekolah lagi” Semua
orang yang ada disana tentunya sangat terkejut dengan kehadiran Fanya,ditambah
lagi mendengar ucapan Fanya yang benar-benar tidak terduga.Malam itu,semuanya
penuh dengan kejutan.
***Bersambung***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar