Ada yang
nyari teks drama.Kali ini aku mau ngeshare teks drama atau cerbung singkat
yang udah aku buat sendiri.Awalnya aku
juga bingung,harus nyari teks drama dimana kalo temanya itu *Menghormati guru
dan orang tua*mana tugas ini mau dipraktikkan berkelompok lagi.Aku udah cari
beberapa kali di internet,tapi hasilnya tetap aja nihil alias gak ada.Gak ada
disini maksudku,gak ada yang cocok,gak ada yang menyentuh *menurutku*.Jadi,aku
inisiatif buat cerita sendiri.Selain niatku mau dapat tambahan nilai,juga buat
nambah pengalamanku dalam menulis.Dan setelah kami latihan dengan teks drama yang
aku buat,kami pun mempraktikkannya,dan alhasil guru terpukau,dan malah berniat
menampilkan kami di atas panggung.Tidak sampai disitu aja,ternyata teks drama
ku itu disebarkn keseluruh kelas 7 untuk dijadikan bahan
pembelajaran.Waah…itulah yang membuatku sangat senang,dan itu juga memotivasiku
untuk terus menulis.Ya sudah dari pada aku ngoceh terus,mending langsung aja
yuk dibaca.
MEMPERSEMBAHKAN……
Fitria dan kawan-kawan.. VII-6
*
*
*
*
*
Tema : Menghormati guru dan orangtua
Judul : Guruku
orangtuaku
1.Tokoh utama
- Fitria Hanaswari (Anisa) : Baik,pintar,dan sabar.
- Sulia Hutami (Haliza) :
Sombong, angkuh,dan pemarah.
- Maulidina Hadi Sasmita (Kakek tua) : Baik,dan sabar.
2.Pemeran pembantu
- Faradila Aldona (Aiunun) :Baik dan penantang
- Baiq.Dewi Rahma Hardi (Umi Sodah) : Ramah dan tidak suka
membedakan
- Maia Sofwatunnisa (Abi Harun) : Bijaksana
- Halimatuz Zakrah (Siti) :Baik dan penantang
3. Narator
- Lale Ziadati Rahma Salsabila
(Adegan 1)
Siang itu di pesantren Al mukmin,cuaca begitu panas.Terlihat
seoang kakek tua berkulit hitam,dan berpakaian compang-camping berdiri di depan
gerbang pesantren.Tidak lama kemudian,seorang santri wati yang sedang bernyanyi
dengan riangnya melihat kakek tua tersebut.Santri wati tersebut kelihatan
keheranan,oleh karena itu ia pun menghampiri si kakek tua dan bertanya “Kakek
siapa?” Hinga terjadilah pembicaraan antara sikakek tua dan santri wati
tersebut. ”Assalammu’alaikum,sebelum menyapa kiranya ucaplah salam nak” Sikakek
tua itu melempar senyuman tulus pada si santri.Akan tetapi,santri wati itu
kelihatan tidak suka dengan ceramah singkat dari kakek tua itu. “Hemm..iya
sih,tapi gak usah ceramah juga keless!! Saya kan cuma tanya,kakek itu
siapa?terus ada apa datang ke pesantren ini?” Kini santri wati itu mengeluarkan
suara dengan nada tinggi,sesuai dengan wajahnya yang kelihatan angkuh dan
sombong. “Izinkanlah kiranya kakek bertemu dengan guru besar di pesantren ini
“. Mendengar maksud kedatangan kakek tua itu,santi wati pun terkejut. “Apa?enak
sekali kakek ini bicara,lihat penampilan kakek!Udah bau,urakan kayak gembel.Dan
dengan keadaan seperti ini,kakek mau menemui Abi dan Umi? Nyadar dong!!Lebih
baik sekarang juga kakek pergi dari pesantren ini!!” Tidak disangka kata-kata
yang keluar dari mulut santri itu begitu tajam.Akan tetapi kakek tua itu sama
sekali tidak kelihatan marah,kakek tua itu terus tersenyum pada si
santri.Senyuman kakek tua itu membuat santri wati itu merasa sangat
jengkel.Kini ia mengira kakek tua itu adalah orang gila.Suara santri wati itu
saatlah besar sampai-sampai terdengar oleh dua orang santri yang berada di
kejauhan sana.Kedua santri itupun menghampiri sikakek tua dan santri wati
tersebut, lalu mereka berdua kompak memberi salam. “Assalammu’alaikum” Sikakek
tua itu menjawab salam dengan seperti biasa yaitu dengan selau tersenyum,akan
tetapi santri wati itu menjawab dengan nada yang meremeh. “Haliza,ada apa
ini?Kami dari kejauhan sana mendengar ada keributan disini.” Salah seoarang
santri yang bernama Anisa pun bertanya pada Haliza,santri wati yang baru saja
marah-marah itu.”Sudah lah Anisa jangan ikut campur masalah ini! Apakah kau tau,kakek
tua ini adalah orang gila yang ingin meneror pesantren ini.Dia itu bau,kamu mau
pesantren kita ini tercemar cuma gara-gara kakek tua yang gak jelas ini!”
Kini Haliza membentak-bentak Anisa,dan mencela kakek tua
itu.Mendengar perkataan Haliza,salah satu teman Anisa yaitu Ainun pun tak tahan
bicara “Hei Haliza.Tidak sepantasnya seorang santri, berbicara kasar terhadap
oranglain,terlebih lagi orang tua!!” Anisa pun mencoba untuk menenangkan Ainun.
“Ainun sudahlah,kita harus tetap tenang dan selalu sabar” Mendengar kata-kata
Anisa,Haliza pun menjadi sangat jengkel.”Heh,kalian itu sama saja.Hei Anisa
jangan sok pinter kamu,mentang-mentang kamu anak kandung abi dan umi terus kamu
seenak-enaknya ceramahin saya.Dasar sombong!” Setelah berkata demikian Haliza
pun pergi meninggalkan mereka bertiga. “Sungguh tidak mempunyai sopan
santun!Anisa tidak apa-apa kan?” Ainun sangat marah dengan Haliza. “Anisa tidak
apa-apa Ainun” Anisa hanya bias bersabar,walau mendengar kata-kaa Haliza yang
begitu tajam padanya. “Maaf kalau kedatangan kakek jadi membuat kegaduhan”
Anisa dan Ainun merasa tidak enak terhadap kakek itu “Tidak pak,bukan
begitu.Kalau boleh tau ada keperluan apa kakek datang kemari?”. “Tadinya kakek
ingin menemui abi dan umimu.” Anisa merasa senang mendengar perkataan kakek tua
itu. “Kalau begitu mari kami antar kakek untuk menemui abi dan umi” Kini Anisa
berniat untuk mengantarkan kakek tua itu pada abi dan uminya. “Tidak perlu lagi
nak,karena kakek sudah tau.” Anisa menjadi penasaran apa yang telah diketahui
kakek itu. “Maksud kakek..?”. “Kamu anak yang baik,sifatmu diturunkan dari
kedua orangtuamu.Kalau begitu,kakek pergi”. “Tunggu dulu kek,kalau boleh tau
nama kakek siapa?” Kini Anisa kelihatan sangat serius dengan pertanyaannya.
“Tuan guru Bonang.Assalammu’alaikum” Anisa dan Ainun pun menjawab salam kakek
tua itu dan melihatnya pergi.
* *
* * *
*
(Adegan 2)
Pada waktu sholat zuhur,salah seorang santri wati yaitu Siti
mengurungkn niatnya untuk sholat Karena melihat Haliza.
“Hei Haliza,aku ingin
bicara.” Tanpa banyak bicara,Sitipun menarik tangan Haliza keluar.
“Lepaskan!ada apa?” Haliza kelihatan sangatlah kesal. “Kembalikan buku yang
telah kau pinjam itu!!” ekspresi haliza menjadi kaku.
“Buku?..,oh.. buku yang aku pinjam padamu itu ya.Tidak
ada,buku itu telah aku bakar.Jadi jangan bertanya padaku lagi!” Haliza mencoba
bersikap tenang dan merasa tidak bersalah. “Apa!enteng sekali kamu bicara.Buku
itu milikku,jadi kamu tidak berhak membakarnya.Kamu itu hanya meminjam!”
Mendengar kata-kata terakhir Siti,Haliza jadi marah. “Milikmu?nyadar dong!buku
itu adalah sumbangan dari kedua orangtuaku.Bahkan semua buku-buku di pesantren
ini adalah dari orangtuaku.!” Haliza berteriak keras. “Dasar sombong!Aku yakin
orangtuamu pasti sangat kualahan menghadapi anak sombong dan pemarah
sepertimu.” Siti pun mendorong bahu Haliza.Haliza sangat marah,akhirnya dia
melawan dan mereka jadi berkelahi.Tidak lama kemudian Anisa pun datang untuk
menghentikan perkelahian antara Siti dan Haliza. “Astagfirullahal’azim,kalian
berdua sudahlah!” Akhirnya merekapun berhenti. “Anisa” Siti pun terkejut.
“Mengapa kalian bertengkar?Ini adalah waktu sholat zuhur,apa kalian lebih
meluangkan waktu untuk berkelahi daripada sholat?”. Nada bicara Anisa masih tetap
tenang seperti biasa. “Maafkan kami Anisa,kalau begitu aku sholat dulu.” Tanpa
menghiraukan Haliza,Sitipun beranjak sholat. “Sebaiknya kamu juga pergi sholat
Haliza,waktu zuhur akan segera habis. Assalammu’alaikum.” Anisa pun pergi
meninggalkan Haliza yang kelihatan kesal,dan urakan.
* *
* * *
*
(Adegan 3)
Keesokannya.semua anak-anak pesantren harus bangun sangat
awal.
“Umi..” di depan dapur pesantren,Haliza bertemu dengan seorang
wanita yang ia panggil dengan sebutan umi.Wanita itupun menoleh kearah
panggilan tersbut. “Haliza,ada apa kamu memanggil umi ?” Suara wanita itu
begitu lembut dan halus. “Haliza hanya ingin bertanya,umi ada apa
kedapur?Biasanya kan disini ada bu Nis yang memasak.” Mendengar kata-kata
Haliza wanita yang dipanggil umi itu pun tersenyum “Umi kesini berniat menemui
bu Nis.Tetapi bu Nis sedang pergi” Haliza meras kesal,entah apa yang membuatnya
seperti itu. “Bagaimana bisa bu Nis tidak ada disini.Sedangkan umi sudah
menunggu dari tadi sendiri!!”.Walaupun wajah Haliza menunjukkan ekspresi yang
benar-benar kesal,tetapi umi tetap tersenyum. “Sudahlah..umi bisa pergi ke
pasar sendiri.”
Haliza mulai mengerti,
mengapa umi ingin menemui bu Nis.Dalam hatinya seraya berkata (“Ini adalah
kesempatanku untuk merebut hati umi.”) “Kalau begitu,biarlah Haliza yang pergi
umi.Haliza mohon, umi jangan menolak.Haliza tidak ingin umi lelah” . “Apakah nak
Haliza sudah yakin,ingin pergi?” Umi bertanya pada Haliza untuk meyakinkan.
“Tentu saja umi,haliza kan sayang pada umi.” Lagi-lagi umi tersenyum
“Baiklah,kalau begitu Anisa akan menemanimu.Sebentar dulu,umi akan memanggil
Anisa”.Umi pun pergi meninggalkan Haliza,Haliza tetap tersenyum walaupun dia
sangat tidak suka karena Anisa akan menemaninya kepasar.
* *
* * *
*
(Adegan 4)
Setelah membeli bahan-bahan yang dibutuhkan,mereka pun pulang
beranjak ke pesantren.Tiba-tiba Haliza berhenti,ia melihat Anisa dibelakangnya
tengah kelelahan membawa semua barang-barang belanjaan terebut.Tetapi Haliza
sama sekali tidak memperdulikannya,ia malah senang dan merasa puas.Tidak lama kemudian,mereka berduapun sampai di depan
pintu pesantren.“Berikan semua belanjaan itu padaku!” Tiba-tiba Haliza meminta
semua belanjaan yang telah dibawa Anisa itu setelah sampai pesantren. “Tidak
apa-apa,biar saya saja yang membawanya.” Tidak memiliki niat apapun Anisa malah
tersenyum. “Hei Anisa,aku tau kenapa kamu ingin terus membawanya.Agar umi dan
abi menyanjungimu,dan memarahiku kan.!” Anisa terkejut mengapa Haliza berpikiran
seperti itu padanya. “Astagfirullahal’azim Haliza mengapa kamu berpikiran
seperti itu?Saya tidak ada niat sediitpun untuk melakukan hal seperti itu.”Kini
Anisa terus menatap Haliza yang ada didepanya. “Kau ingin tau,kenapa aku selalu
membencimu Anisa?.Karena aku iri,aku iri kau memiliki abi dan umi yang begitu
menyayangimu.Sedangkan aku dibuang,aku tidak diinginkan lagi dikeluargaku.”
Anisa semakin terkejut mendengar apa yang dikatakan Haliza. “Apa yang membuatmu
berpikiran seperti itu?kedua orangtuamu sangatlah menyayangimu Haliza,layaknya
abi dan umi menyayangimu.” “Kamu tahu apa?kamu tidak tau apa-apa!,yang aku
inginkan sekarang abi dan umi lebih menyangiku dibandingkan Kamu Anisa!!”
Haliza membentak Anisa. “Sudah,hentikan semua ini!!.
Dari arah belakang,abi dan umi datang bersamaan dan ditemai
oleh Ainun dan kakek tua,yaitu tuan guru bonang. “Uumi,aabi.kakek tua itu…”
“Benar,kakek ini adalah guru abi dan umi waktu dulu di pesantren sekaligus
orang yang telah kamu cac i maki lalu mengusirnya.” Haliza tidak tau harus
berbicara apa lagi,ia syok dan terkejut dan kini dia merasa ketakutan. “Abi,umi
bukan begitu,Haliza tidak bermaksud..” “Sudah Haliza! Abi dan umi sudah tau
semuanya”Abi memotong pembicaraan Haliza. Ainun menuduk melihat Haliza yang
kelihatan akan menangis ketika abi memarahinya,dan ia juga merasa
bersalah,karena dialah yang menceritakan semua yang terjadi selama ini. “Abi,
Haliza minta maaf abi,Haliza salah.” Haliza terus meminta maaf sambil berlutut
pada abi. “Bangunlah nak,kamu tidak boleh seperti ini!” Abi sangat tidak tega
melihat anak asuhnya seperti itu. “Anisa mohon abi,maafkanlah Haliza,setiap
manusia pasti bisa melakukan kesalahan” Melihat anisa yang membela Haliza,tuan
guru bonang tersenyum,abi pun meliha tuan guru bonang yang
mengangguk.”Baiklah,tapi berjanjilah kamu tidak akan melakukan hal yang bodoh
lagi.Dan kamu harus meminta maaf pada semua orang yang telah kamu zalimi.”
Haliza pun sangat senang mendengar abi ingin memaafkannya. “Baik abi,Haliza
akan berubah,Haliza janji pada abi,umi,Kakek,Anisa,Ainun,dan semua orang
terutama pada diri Haliza sendiri kalau Haliza akan berubah menjadi pribadi
yang lebih baik lagi.Dan Haliza minta maaf pada semua orang yang telah Haliza
sakiti.Terutama kakek dan Anisa.” Semuanya tersenyum karena Haliza masih mau
menyadari klesalahannya.Kakek pun mengangguk sambil tersenyum,begitupun dengan
Anisa.Lalu merekapun berpelukan…
Happy
ending…..
Pengarang : Fitria
hanaswari
Pesan
Moral:
1.
Janganlah menyimpan rasa iri hati terhadap orang lain,karena itu akan
merugikan oranglain dan terutama diri
sendiri.
2.
Hormatilah orang lain,terlebih lagi orang yang lebih tua.
3.Janganlah
menjadi pribadi yang pemarah dan mau
menang sendiri.
4.Selalu
bisa bersabar dan tidak mudah terpengaruh.
5.Selalu
berpikiran positif terhadap orang lain.
Hem hem
hem…itu dia tuh…. Cerbung dariku.Okee deh, terimakasih atas kunjungnnya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar